Rabu, 08 Agustus 2012

MENUJU KOTA SEHAT melalui GERAKAN SAYANG IBU


Libatkan Semua Agen Perubahan*


Sejak diadakan Konferensi Safe Motherhood di Nairobi, Februari 1987, masalah kematian ibu yang berkaitan dengan kehamilan menjadi persoalan global. Hal ini disebabkan salah satu indikator utama yang membedakan suatu negara digolongkan sebagai negara maju atau negara berkembang dapat dilihat dari rata-rata Mother Mortality Rate (MMR). Rata-rata MMR negara maju 20 kematian per 100.000 kelahiran. Sedangkan di negara berkembang 440 kematian ibu per 100.000 kelahiran.

Sementara itu dalam buku UNDP, Human Development Report edisi 1996 tercantum AKI di seluruh dunia 307 per 100.000 kelahiran, yakni 28 untuk negara-negara industri dan 384 untuk negara-negara sedang berkembang. Variasinya besar sekali, dari 0 di Luksemburg dan Malta sampai lebih dari 1.500-100.000 kelahiran di Bhutan, Afghanistan, dan Sierra Leone. Lantas di mana posisi Indonesia?

Di buku itu AKI Indonesia diperkirakan 650 per 100.000. Perkiraan resmi di Indonesia lebih rendah, 425 per 100.000 kelahiran. AKI 425 orang itu termasuk tinggi, paling tinggi di ASEAN. Vietnam mempunyai AKI 120, Malaysia 59, dan Singapura 10. Bahkan menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), pada tahun 2002 kematian ibu melahirkan masih mencapai 307 per 100.000 kelahiran. Angka 307 ini berarti 31 kali kematian ibu di Singapura, 5 kali dari Malaysia, dan 2,5 kali dari Vietnam.

Pembahasan khusus tentang angka kematian ibu di kawasan Asia Tenggara pada 8 – 11 September 2008 lalu di New Delhi India juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang terbesar kematian ibu dan anak di kawasan Asia Tenggara. Jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung. Sebanyak 98 persen dari seluruh kematian ibu dan anak tersebar di India, Bangladesh, Indonesia , Nepal dan Myanmar.

Padahal tak terbilang usaha untuk menurunkan angka kematian ibu hamil maternal di Indonesia. Diantaranya dengan Program Safe Motherhood pada tahun 1988, Gerakan Sayang Ibu pada tahun 1996, serta Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman atau Making Pregnancy Saver (MPS).

Kematian ibu maternal dan bayi memang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan warganya. Merubah paradigma masyarakat yang masih menggantungkan persalinan ke dukun menjadi salah satu hal tersulit. Budaya “sudah biasa” yang selama ini melekat menyebabkan ibu hamil merasa lebih nyaman dan aman menyerahkan proses persalinan mereka ke tangan dukun. Oleh karena itu dibutuhkan pihak ketiga sebagai agen perubahan.

Faktor lainnya adalah terbatasnya akses terhadap pelayanan persalinan. Hal ini diperparah oleh lemahnya posisi perempuan di lingkungan masyarakat, khususnya di pedesaan, dalam pengambilan keputusan mengenai masalah kesehatan reproduksinya. Di banyak daerah perempuan sulit memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi dirinya dan bayi yang dikandung. Jadi, saat mengalami perdarahan atau komplikasi saat kehamilan, suami atau tetua adat yang memutuskan kapan dan di mana ia akan dirawat.

Selain itu banyak ibu hamil terlambat mencapai sarana kesehatan lantaran tempat tinggalnya jauh dari tempat pelayanan persalinan. Penyebab lain adalah banyak rumah sakit di daerah yang tidak memiliki pelayanan transfusi darah sehingga kesulitan mengatasi masalah perdarahan dan komplikasi persalinan.

Dari sekian banyak kendala di atas, lantas apakah tidak ada daerah yang telah berhasil menekan laju kematian ibu selama ini? Tentu ada. Berjarak 390 km dari ibukota Sulawesi Selatan, Kecamatan Wara Utara Kota Palopo berhasil merubah paradigma masyarakat. Lebih jauh lagi, kecamatan tersebut sedikit demi sedikit mampu merubah kelemahan menjadi kekuatan.

Adalah Ansir Ismu, Camat Wara Utara Kota Palopo yang berusaha menekan laju kematian warganya. Tak dapat di sangkal Kota Palopo menjadi salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang tingkat kematian ibu maternal mengalami lonjakan dari 17 menjadi 25 orang di tahun 2007. Tak ingin warganya turut menjadi korban, Ansir Ismu yang sejak tahun 2008 menjabat sebagai Camat Wara Utara mulai mengerahkan segenap upayanya. Penjabaran program GSI di Wara Utara disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan wilayah, kreatifitas, inovasi dan karya yang melibatkan semua komponen masyarakat.

Pada tahun 2008 penguatan GSI di kecamatan ini makin diperbesar. Layaknya sebuah organisasi, agen perubahan Wara Utara juga memiliki struktur. Di tingkat kecamatan dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Sayang Ibu yang diketuai oleh camat. Di tingkat desa/kelurahan dibentuk Satgas Sayang Ibu, diketuai kepala desa/ketua umum LKMD dengan dua ketua pelaksana, sekretaris, dan anggota-anggota. Tugas pokok mereka adalah menghimpun data tentang ibu hamil dan bersalin, memberikan penyuluhan, dan mengumpulkan dana untuk ambulans desa serta tabungan ibu bersalin.

Salah satu hal yang menarik, di Wara Utara, para ketua satgas GSI dan pengurus inti di semua kelurahan di dominasi kaum bapak yang berarti adanya pelibatan kaum lelaki dalam gerakan ini. Keterlibatan mereka tentunya diharapkan berujung pada kepedulian kepada kaum ibu.

Agen perubahan lainnya adalah dukun (sanro). Sebanyak dua sanro di Wara Utara pun dirangkul dan dilibatkan dalam proses persalinan bayi. Dukun tidak dilihat sebagai
kompetitor, tetapi dijadikan mitra bidan.

Langkah-langkah berikutnya adalah satgas GSI bekerja sama dengan pelatih senam untuk melatih ibu-ibu hamil. Tujuannya tidak lain agar kesehatan ibu hamil dapat terus terjaga dan terpantau oleh satgas. Satgas GSI juga membentuk kelompok keluarga sadar hukum GSI yang anggota-anggotanya terdiri dari kelompok dasawisma, karang taruna, remaja mesjid, dan remaja gereja. Selain itu partisipasi warga dalam GSI juga ditingkatkan melalui pembentukan Pondok Sayang Ibu yang dapat digunakan oleh ibu hamil yang waktu melahirkannya sudah dekat sementara jarak rumahnya jauh dari pusat pelayanan kesehatan.

Beberapa upaya lainnya adalah membuat kerjasama MoU antara satgas GSI dengan beberapa pelaku bisnis guna mendukung GSI. Salah satu point kerjasama tersebut adalah pengusaha dengan biaya sendiri memasang brosur himbauan dan spanduk GSI di tempat-tempat yang mudah terlihat oleh para pelanggan. Bahkan, Stasiun Pengisian Bahan bakar untuk Umum (SPBU) yang berada di Kecamatan Wara Utara juga tidak luput dari pengamatan satgas GSI. Di tempat ini satgas menyediakan kotak amal GSI yang diletakkan di lokasi strategis yang memudahkan pengendara melihatnya.

Komunikasi Informasi Masyarakat (KIM) juga diberdayakan oleh satgas sebagai alat sosialisasi sekaligus alat informasi GSI dengan cara membuat buletin, kliping, berdiskusi, dan memberikan informasi. Selain itu satgas juga membentuk ojek dan becak GSI untuk mengantar ibu hamil. Tak cukup hanya ojek dan becak, warga setiap kelurahan pun dengan sukarela menyiapkan kendaraan untuk ibu hamil sekaligus menjadi donor darah siaga.

Tak berhenti sampai di situ, Ansir Ismu juga bekerja sama dengan Kepala KUA dan Ketua forum LPMK Wara Utara membentuk program triangle lovely (kasih sayang 3 sisi) yaitu pelaminan menuju GSI. Pada program ini, setiap pasang pengantin yang memiliki tingkat perekonomian yang memadai akan diminta partisipasinya membantu program GSI. Jumlah nominal tergantung kerelaan sang calon pengantin.

Dunia pendidikan juga disasar oleh Camat yang sebelumnya juga pernah menjadi orang nomor satu Kecamatan Wara. Dinas Pendidikan pun merespon. Pemahaman dini GSI di sekolah-sekolah, terutama di sekolah dasar mulai diperkenalkan. Peran serta sekolah, terutama sekolah dasar, dalam mendukung program GSI terlihat nyata karena mulai dari pintu masuk, tembok sekolah, hingga pintu kelas terpasang spanduk dan pamflet GSI. Kerjasama tersebut juga terlihat dari kesediaan para guru menjelaskan program GSI kepada murid sebelum pelajaran di mulai. Bahkan beberapa guru dengan antusiame menciptakan mars GSI :

………………………………………..
Kami putra dan putri Palopo
Sayang ibu menjadi tekadku
Walau apapun jadi tantangan
Sayang ibu takkan luntur
………………………………………...



Dengan beragam kreatifitas di Kecamatan Wara Utara di atas, lantas di mana partisipasi Pemerintah Kota Palopo sendiri? Kecamatan Wara Utara tentu saja tidak bergerak sendiri. Guna mendukung GSI ini, Walikota Palopo H.P.A. Tenriadjeng dan jajaran pejabat kota lainnya turun tangan dengan melakukan siaran langsung menyebarkan informasi GSI di beberapa radio swasta lokal. Bahkan, pemerintah kota berhasil melakukan kerjasama dengan tiga sekolah tinggi ilmu kesehatan dan perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat di bidang kesehatan. Tidak hanya itu, pemerintah kota juga memperkuat regulasi kesehatan melalui terbitnya Perda Kota Sehat yang merupakan perda kota sehat pertama di Indonesia.

Kerjasama harmonis antar pemerintah kota, pemerintah kecamatan, agen perubahan, dan masyarakat tidak sia-sia. Terbukti angka kematian ibu dapat ditekan secara drastis. Dari 25 orang angka kematian ibu di tahun 2007, kota yang berpenduduk 141.996 jiwa ini berhasil menekan kematian ibu menjadi 4 jiwa di tahun 2008 dan akhirnya zero percent di tahun 2009. Tepatlah kata pepatah Bugis “Iya Ada Iya Gau” yang berarti Satu Kata Satu Perbuatan. GSI di Palopo bukan hanya pada ucapan tapi juga pada perbuatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar